Jumat, 16 November 2012

TANGIS KEBAHAGIAN SEORANG PENDOSA BESAR

Seorang Pendosa Besar yang telah melakukan pembunuhan seratus kali, tapi di akhir hayatnya dia dimasukkan oleh Allah sebagai penghuni surga karena niatnya yang besar untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Kisah-kisah serupa banyak terjadi pada masa lalu. Semua itu menunjukan, betapa Allah akan selalu membuka pintu maghfirah-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh mau bertaubat.

Di bawah ini kami kutip sebuah cerita tentang seorang pemuda Bani Israil yang hidup pada masa Nabi Musa as. Selama hidupnya pemuda itu banyak melakukan perbuatan dosa dan kehinaan, tetapi di akhir hayatnya dia menyadari atas kesalahannya yang sangat banyak itu. Akhirnya, Tuhan memberitahukan kepada Musa, bahwa pemuda itu akan bersama dirinya di dalam surga.


Al-kisah, hiduplah seorang pemuda yang masih belia. Sayangnya, meskipun usianya masih belia, tetapi catatan kejahatannya sangat fantastis. Ia telah melakukan banyak kejahatan dan keresahan di masyarakat.

Tidak sedikit orang yang menjauhinya bahkan kerabat terdekatnya sendiri enggan untuk bergaul bersamanya. Siapa pun tidak ada yang mampu mencegah perbuatan bejatnya tersebut.

Karena ulahnya itu, masyarakat berdoa kepada Tuhan agar pemuda tersebut dihukum dengan balasan setimpal. Doa masyarakat dikabulkan. Tuhan mewahyukan kepada Musa, bahwa “Di Bani Israil ada seorang pendosa besar yang masih belia, yang harus dikeluarkan dari kampung. Keberadaan laki-laki pendosa ini akan menjadikan sebab mereka masuk neraka.”

Akhirnya, pemuda tersebut diusir oleh Musa dari kampungnya. Pemuda itu lari ke kampung lain, dan Musa juga kemudian mengusirnya. Begitulah seterusnya, setiap ia singgah di sebuah kampung, ia langsung diusir oleh masyarakat setempat, karena catatan kejahatannya yang terkenal itu.


Sampai akhirnya pemuda itu terjebak di sebuah gurun pasir yang tak berair, tak berpenduduk, tidak ada mahluk hidup, tak ada burung, tak ada binatang liar, kecuali ia sendiri saja. Tak ada sesuatu yang dapat ia makan atau ia minum, maka sakitlah ia. Tak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Maka pemuda itu pun jatuh di hamparan padang pasir yang luas dan gersang itu.

Dalam kesakitannya, pemuda itu merintih, “Tuhan, seandainya ibuku di sebelah kepalaku, tentu ia akan menangisi aku yang dalam keadaan hina begini. Jika saja ayahku ada disini, tentu ia akan menolongku, memandikanku serta mengkafaniku. Jika saja istriku ada di sini tentu ia menangisi kepergianku yang untuk selamanya ini. Jika saja anak-anakku ada di sini, tentu mereka akan menangisi dibelakang jenazahku dan berdoa, ‘Wahai Allah, ampunilah kiranya ayahku yang asing ini, orang yang papa, banyak maksiat, pendosa besar yang ditolak masyarakat dan tidak terima dari desa ke desa, hingga terpencil di gurun yang ganas. Ia keluar dari dunia yang keputusaasaan dari harapan lain-selain harapan atas rahmat-Mu’.”

Laki-laki itu merintih lagi, “Ya Allah, jika kau putuskan aku dari ibuku, ayahku, anak-anakku, dan istriku, jangan kiranya kau putuskan aku dari rahmat-Mu. Hatiku terbakar oleh perpisahan dengan mereka. Jangan lagi kau bakar diriku dengan api neraka-Mu hanya karena maksiatku.”

Ternyata, doa pemuda itu dikabulkan oleh Allah SWT. Allah kemudian memerintahkan seorang bidadari yang menyerupai ibu dan istrinya dan beberapa bidadari kecil yang menyerupai anak-anaknya. Allah juga mengirimkan seorang malaikat yang menyerupai ayahnya. Semuanya lalu duduk di dekat pemuda itu dan menangis. Mereka itu seakan benar-benar anak-anaknya, istrinya, ibunya dan ayahnya.

Akhirnya, hati pemuda itu menjadi tenang dan berkata, “Ya Allah, jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu. Sungguh Engkau sangat berkuasa atas segala-galanya.”

 Setelah itu pemuda itu mati menuju ke haribaan Allah dengan suci dan tanpa dosa kemudian Allah dengan mewahyukan kepada Musa untuk mengurus jasad pemuda tersebut.
“Di tempat itu telah meninggal seorang wali Allah. “Mandikan! Kafankan! Sembahyangkan!” Demikian bunyi firman Allah kepada Musa.

Musa terperanjat ketika sampai di tempat yang ditujunya itu. Sebab, wali Allah yang dimaksudkan ternyata pemuda yang dulu pernah diusirnya atas perintah-Nya. Nabi Musa melihat beberapa bidadari menangisi kepergian pemuda itu.
“Pemuda inikah yang dulu banyak berbuat dosa, yang kukeluarkan dari desa ke desa, atas perintah-Mu?” tanyanya.

“Benar, Musa,” jawab Allah. “Aku telah mengampuninya, dan menyayanginya, karena rintihannya di dalam sakit, karena perpisahannya dengan kampungnya, karena perpisahannya dengan orang tuanya, anak-anaknya, istrinya. Lalu Aku kirimkan bidadari yang menyerupai ibunya dan malaikat yang menyerupai ayahnya, semata karema rahmat-Ku atas kehinannya dalam keasingannya jika mati seorang asing, menangislah penghuni langit dan bumi hanya karena iba kepadanya. Lalu bagaimana Aku tak iba padahal

Akulah Dzat Paling Pengasih dari semua yang belas kasi?”
Demikianlah kisah seorang pemuda yang semula adalah tukang berbuat onar di masyarakat, tapi tiba-tiba akhirnya meninggal dalam keadaan membahagiakan. Rupanya, tangis kesedihan yang dialami di akhir hayatnya, berbuah menjadi berita kebaikan di akherat kelak.

Tuhan memang senantiasa menerima taubat siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang mau menyadari kesalahanya. Tapi, sayang di antara kita sering menilai buruk Tuhan, bahwa ‘Tuhan telah berbuat tidak adil’, ‘Tuhan tidak mau menghapus dosa-dosa saya yang sudah sangat banyak ini’, dan sebagainya.
Nabi SAW. Bersabda, ‘Hamba yang penuh dosa, tapi selalu mengharap ampunan Allah, lebih baik dari hamba yang selalu beribadah tapi putus asa terhadap rahmat Tuhan-nya,’ Hadist ini semakin menegaskan tentang kenyataan di atas, bahwa Allah akan selalu membuka pintu taubat kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menyadari kesalahanya yang telah diperbuatnya.

Dibawah ini, akan kami paparkan kisah lain untuk menguatkan tentang makna bunyi hadits di atas.

Dikisahkan, bahwa ada seorang laki-laki di zaman Nabi Musa yang ketika meninggal dunia tidak ada yang mau memandikan, mengkafani, dan menyolatkannya. Masyarakat menganggapnya sebagai sosok yang durhaka kepada Tuhan. Karena itu, laki-laki itu dibuang masyarakat ke tempat sampah.

Berita naasnya laki-laki itu kemudian sampai telinga Nabi Musa setelah diberitahukan oleh Allah sebelumnya. Kepada Nabi Musa, Allah berfirman, “Musa, telah mati seorang laki-laki, jenazahnya kini di tempat sampai. Padahal ia kekasih-Ku. Ia tidak dimandikan, tak dikafani dan tak dikuburkan. Maka datanglah. Mandikan, kafani, sembahyangkan, dan kuburkan dengan kemuliaan.”
Akhirnya, Musa berangkat menemui mayat yang dibuang ke tempat sampah itu. Karena belum tahu betul tentang tempat mayat itu berada, Musa menanyakannya kepada penduduk setempat.
“Benar, di sini telah meninggal seorang durhaka,” jawab mereka.
“Dimana ia kini?” tanya Musa. “Aku ke mari semata-mata diutus Allah untuk laki-laki yang kalian anggap durhaka itu.”

Diantar penduduk kampung, Musa menjenguk mayat di buangan sampah itu, kisah kebusukan laki-laki itu mengalir dari mulut penduduk yang menampakkan kebencian, setelah melihat sendiri mayat itu, Musa pun heran terhadap perintah Tuhan tadi.
“Tuhan, Engkau telah mengutusku menguburkannya dan menyembayangkannya. Padahal kaumnya menyaksikan ia seorang durhaka. Hidupnya hanya melakukan perbuatan tercela. Hanya Engkau yang Maha Tahu soal puji dan cela.”

Allah menjawab, “Benar, Musa. Orang-orang itu juga benar. Mereka menghukum laki-laki itu karena perbuatannya. Tapi Aku telah mengampuninya karena tiga sebab. Ketahuilah: Kalau seorang pendosa meminta ampun kepada-ku dan Ku ampuni, mengapa dia tidak? Padahal dia pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa Aku adalah Tuhan MahA Penyayang.”
“Apakah tiga sebab itu, Tuhan?” tanya Musa.
“Ketika laki-laki itu menghadapi maut, ia mengadu kepada-Ku, ‘Tuhan, kau tahu segala maksiat yang ku perbuat, padahal sebenarnya aku sangat membeci maksiat itu. Mengapa kulakukan juga, padahal aku membencinya, itu karena tiga hal, Tuhan’.”

 Pertama, “bahwa nafsu pergaulan yang jelek, dan iblis terkutuk. Ini yang pertama membawaku jatuh ke dalam pelukan maksiat. Tentu kau sangat tahu, dan ampunilah aku.”
Kedua, “Tuhan, kau tentu tahu bahwa aku berbuat maksiat karena aku dalam lingkungan yang bejat. Padahal sebenarnya aku menyukai orang-orang yang baik dan zuhud. Tinggal dengan mereka sangat aku senangi dari pada berkumpul dengan orang bejat. Tuhan.”
Ketiga, “Tuhan, sungguh, orang yang salih lebih baik dar pada orang thalih (lawan sali). Sungguh orang salih lebih saya cintai. Jika seandainya datang kepada saya dua orang itu, saya akan mendahulukan yang salih.”

Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, dijelaskan, bahwa laki-laki itu pun mengadu “Wahai Tuhan, seandainya Kau ampuni semua dosaku, para wali dan para Nabi-Mu akan bergembira. Dan musuh-musuh-Mu, setan, akan sedih. Sebaliknya jika Kau siksa aku karena perbuatanku, setan dan balanya akan bersorak karenanya, dan sedihlah para Nabi dan para wali-Mu. Aku tahu, Kau lebih menyukai para Nabi dan para wali senang dari pada menyenangkan setan. Maka ampunilah aku, Allah, Engkau sangat tahu terhadap apa yang ku lakukan kini dan yang ku adukan sebenarnya.”

Allah melanjutkan, “Maka Ku ampuni dosanya dan Ku rahmati dia. Sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang, khususnya kepada mereka yang mengakui kesalahannya di hadapan-Ku. Dan laki-laki ini telah mengakui kesalahannya, maka Ku ampuni dia, Ku lewatkan segala dosanya.”
“Wahai Musa, lakukan apa yang Ku-perintahkan. Aku pun akan mengampuni orang-orang yang menyembahyangkannya serta ikut menguburkannya, demi kemuliaan yang dia miliki.”

Demikianlah dua kisah dari orang-orang yang taubatnya diterima oleh Allah SWT. Semoga, cerita tersebut memberi semangat kepada kita untuk tidak putus harapan dari rahmat dan ampunan Allah, sehingga kita bisa mengakhiri hidup ini dengan maghfirah dan rahmat Allah SWT. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar